Google Translate

Friday, July 6, 2012

Pergilah Cinta


Akhirnya aku tiba di rumah sakit ini lagi. Kulangkahkan kakiku memasuki lorong-lorong menuju kamar rawat inap. Pikiranku hanya tertuju pada kamar yang di ujung. Setengah jam lalu, aku di beritahu oleh mamanya Nisa, Nisa masuk RS karena percobaan bunuh diri. Tak kusangka, sosok periang yang penuh semangat bisa melakukan hal senekat itu.

Aku melihat Nisa sedang tertidur pulas. Lalu aku duduk di sampingnya. Matanya bengkak, mukanya pucat, bibirnya kering. Ia meneguk alkohol berlebihan hingga asam lambungnya kumat,dan mengakibatkan dehidrasi. Aku merapikan rambutnya, kubelai kepalanya. Nisa membuka matanya perlahan, kami saling bertatap, air matanya mengalir, kuhapus dengan tisu yang ada di meja. Tatapannya kosong. Ia memegang tanganku, erat sekali, lalu ia memejamkan matanya lagi.

Kali ini air mataku yang jatuh. Tepat tiga bulan lalu, aku berbaring di tempat tidur ini. Aku mengalami kecelakan. Aku terjatuh karena tak melihat ada jurang di sampingku saat aku akan flying fox. Pikiranku kosong saat itu , karena terlalu sedih akibat mengetahui kenyataan bahwa orang yang kucintai selama ini membohongiku. Ia tidak selingkuh, tapi ia berusaha mencintaiku karena hutang budi pada keluargaku. Usahanya gagal dan ia sama sekali tidak mencintaiku. Hingga kuputuskan untuk melepasnya. Dan orang yang kucintai itu tak pernah mencariku sampai detik ini. Hari-hari pertamaku tanpa ia sangat berat.Aku berusaha mencari hiburan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, dimulai dengan hampir tertabrak mobil saat menyebrang, lalu hampir tenggelam saat snorkeling, dan yang terakhir aku terjatuh dan terluka parah.Tapi luka itu tidak sebanding dengan luka yang ada di hatiku. Otakku dengan mudah ingin melepasnya, tapi hatiku tak bisa. Aku terisak di samping Nisa.

Nisa membuka matanya lagi ....

" Maaf Nisa..... aku membangunkanmu..." isakku...
" Ga pa pa.... " ia berusaha untuk duduk
Aku memeluknya....
"Aku tahu ini berat Nis, aku tahu betapa sakitnya kamu saat ini." kataku pelan
Nisa hanya menangis.....
"Aldi telah pergi La, Aldi memilih wanita itu .... " katanya terbata2
Kurasakan pelukannya sangat erat.
"Wanita itu...cantik,pintar, dan dari keluarga terpandang. Pernikahan kami tinggal satu bulan La,aku malu..." teriaknya histeris....
Hanya tangisan Nisa yang terdengar di ruangan ini.
" Sabar Nis...sabar..." aku benar2 tak kuasa menahan air mataku
" Kenapa La...kenapa...apa salahku?" pelukannya mulai merenggang
" Nisa...kamu ga salah, ini salah satu rencana Tuhan. Tuhan memberikan orang yang salah sebelum kita menemukan yang tepat, percaya itu." jawabku lirih
"... Sakitnya kehilangan La,sakit sekali....hatiku hampa,kosong...." suaranya bergetar...
" Iya...aku tahu, lepaskanlah Nis, rela, iklhas... nanti lama2 terbiasa. Aku akan selalu berada di sampingmu, menemanimu melewati hari2 ke depan sampai kau kuat. Seperti kamu menemaniku dulu melewati hari2 gelapku..."
" Apa aku sanggup La?"
" Pasti sanggup, seperti katamu 3 bulan lalu, cinta itu ga bisa dipaksakan, karena semakin dipaksa akan semakin sakit, semakin sakit akan semakin menghilangkan makna cinta itu sendiri."
" Yang penting kamu sembuh dulu, semua ini pasti berlalu Nis, pasti berlalu ." sambungku....

Lima menit kami terdiam....tangisan Nisa mulai mereda.....

Kami melepaskan pelukan kami, lalu menghapus air mata kami.
Saling bertatap dan tersenyum pahit