Google Translate

Sunday, April 12, 2015

Cerita Tentang Diare :)

Perjalananku kali ini tanpa persiapan, pakaian yang kubawa asal kumasukan saja dalam koperku pagi hari sebelum berangkat. Perjalanan ini dikarenakan ada sisa tiket VIP yang belum terpakai dan akan hangus atau aku harus membayar lagi untuk menundanya tanpa bisa mengganti rute penerbangan. Kuputuskan untuk pergi liburan, mencari inspirasi sambil menyelesaikan beberapa urusanku. 

Aku sampai ke tujuan dengan selamat. Menyenangkan sekali, aku bisa keliling kota dan menikmati kuliner di kota tersebut. Sampai aku lupa dengan alergiku. Aku sempat terkena alergi kulit, kulitku merah2 sungguh mengerikan. Untunglah suami temanku membelikan aku obat alergi dan dalam beberapa hari aku sembuh.

Ketika pulang, ternyata kena diare :(. Badanku lemas sekali, panas, dingin , gemetar dan bolak-balik ke toilet bandara. Ingin rasanya kubatalkan kepulanganku, tapi warung makanku sudah lama kutinggalkan dan banyak masalah yang juga harus diselesaikan. Aku harus pulang !!!. Salahku adalah aku tidak mempersiapkan obat-obatan yang biasanya selalu ada di koperku seperti minyak angin, obat merah, obat demam, obat sakit perut/diare dan obat alergi.

Sesampainya di rumah, aku lemas sekali. Masih bolak balik ke toilet. Hari kedua dirumah, rasanya tak tahan lagi. Mungkin aku harus ke rumah sakit. Tapi kali ini aku benar2 tidak ingin ke rumah sakit, karena tidak ada yang bisa mengantar dan kupikir sekaranglah waktunya aku berjuang untuk menurunkan dosis obat yang kumakan untuk mengobati diare ini.Aku bertahan dengan obat yang berdosis rendah dan akhirnya setelah menelan 14 tablet, aku pun sembuh. 

Pikiranku melayang ke 4 tahun lalu…
***
Aku masih kost di Tanjung Duren Jakarta. Sabtu itu, aku dan temanku pergi ke spa, setelahnya kami makan di rumah makan padang, entah mengapa ketika melihat sate padang, aku pun langsung memesannya dan menyantapnya dengan lahap. Karena sudah menjelang malam, kami pun pulang ke tempat masing-masing.
3 jam setelahnya, perutku sakit sekali dan aku pun diare lalu muntah-muntah. Begitu terus berulang kali. Sampai aku muntah air, isi di perutku sudah habis. Teman kostku pada pergi. Mba kost juga ga ada. Aku tak sanggup buat berteriak ataupun berjalan lagi. Seisi kamarku penuh muntahanku. 

Aku menelepon temanku meminta tolong untuk membawaku ke dokter, tetapi pada saat itu dia tidak bisa. Lalu aku memberanikan diri sms si koko, dan aku langsung ditelepon balik. Dia menanyakan keadaanku bagaimana, aku jelaskan bahwa aku sudah sangat lemas dan harus ke dokter. Dan ia pun berkata bahwa ia akan mengantarkanku dan menyuruhku menunggunya. Aku pun segera menyiapkan dompetku dan cek ulang kartu asuransi dan kartu kreditku. Tak sempat lagi aku berganti pakaian, karena sibuk membersihkan bekas muntahan dan bolak balik ke toilet karena diare dan muntah lagi, perutku rasanya sakit sekali,kepalaku pusing, sesekali air mataku jatuh. 

Teleponku berbunyi lagi, ternyata si koko. 
Koko : “ De, apa sebaiknya pergi duluan aja ke dokter? Soalnya macet sekali,sudah lewat jalan tol”
Aku   : “ Ga pa pa ko, aku tunggu aja soalnya udah lemes banget.”
Koko :” Oke… tunggu yah “

Sesekali si koko telepon untuk memberitahu posisinya di mana. Yah aku hanya bisa duduk di belakang pintu kostku. Akhirnya si koko sampai di kost, aku langsung turun. Si koko mau ke toilet dan aku menyuruhnya naik sendiri ke kost karena udah ga kuat lagi. Kamarku di lantai 2. Si koko bilang di mobil ada sepupunya, jadi aku disuruhnya untuk menunggu di mobil. Aku pun memutuskan menunggunya sambil berjongkok di balik pagar kost, karena akan mengunci pintu kost juga. 

Setelah itu kami menuju ke dokter yang terdekat, dokter memberikan rujukan untuk rumah sakit. Pikiranku galau, haruskah aku ke rumah sakit ? Tetapi muntah dan diareku terus berlanjut di tempat dokter. Si koko pun memintaku untuk opname di rumah sakit saja, karena di kost tidak ada orang katanya.  Sepupu si koko, si bro udah panic juga karena aku ke toilet lama sekali ga keluar keluar.

Akhirnya kami pun pergi ke rumah sakit. Mereka menyuruh ke rumah sakit terdekat, tetapi aku berkeras untuk ke rumah sakit permata hijau. Alasanku karena aku sudah kenal dengan beberapa dokter dan suster di sana karena pernah diopname di sana, jadi tidak perlu registrasi ulang yang memakan waktu lama bila ke rumah sakit yang baru. Selain itu rumah sakit permata hijau menerima kartu asuransi rekanan,jadi tidak perlu deposit. Buat aku yang sendirian, tentu saja tidak bisa mengurus administrasi sendirian. Karena biasanya rumah sakit hanya akan melayani kita setelah kita mendeposit uang dan tanda tangan penjamin. Aku tak mau merepotkan orang-orang yang mengantarkanku.

Gawatnya, si koko dan si bro ga tau letak rumah sakit itu di mana. Aku juga lupa lupa ingat jalan menuju ke sana. Betapa paniknya kami yang berada di mobil. Aku saja sudah setengah sadar. Cuma bisa menjawab iya,iya tanpa tahu mereka bertanya apa. Sampai akhirnya mereka sadar kalo aku sudah tidak nyambung waktu diajak bicara. Mobil melaju dengan kencangnya dan akhirnya kami tiba di rumah sakit.

Si koko meminta si bro mengantarkanku ke ugd, sedang dia akan mencari parkiran mobil. Aku pun bergegas menuju ugd dan dokter langsung menyuruhku berbaring untuk segera  disuntik, diberi obat dan langsung diinfus. Aku sempat tak sadar selama proses itu selama setengah jam. Setelah itu, seperti punya kekuatan, aku tersadar, aku pun duduk dan meminta tolong ke dokter untuk mencarikan aku kamar yang isinya 2 orang, karena tak ada yang menemaniku.  Dokter memberitahuku jika telat setengah jam lagi kemungkinan ga ketolong karena denyut nadiku sangat kencang (lupa hitungannya berapa).  

Kamar masih penuh, dan aku harus menunggu beberapa jam lagi di ugd. Si koko dan si bro harus kerja, sedangkan jam sudah menuju pukul 02.00 pagi. Mereka akhirnya pulang setelah aku diyakinkan mendapat kamar. Sebelum pulang, si koko sempat berpesan untuk memberitahukan kondisiku dan aku tidak diperbolehkan pulang. Aku pun mengiyakannya. Setelah aku mendapat kamar, aku meberitahu si koko via telepon 
Aku :” Ko sebentar lagi udah dapet kamar kok, koko udah sampe mana?”
Koko : “ Oh baguslah, udah sampe depan rumah. De, kamu jangan pulang sendiri ya, janji loh jangan pulang, kalo kamu pulang koko ke rumah sakit lagi sekarang. Mana dokternya? Koko mau bicara.
Aku pun memberikan handphoneku kepada dokter. Entah apa yang dibicarakan mereka, aku cuma mendengar dokter bilang iya iya sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, aku pun masuk ke kamar rawat inap. Aku sudah tidak muntah dan tidak diare lagi. Rasanya seperti mimpi.

***
Thank You ko,bro :)
Sekarang bener2 harus jaga diri baik2 karena ga ada lagi yang bisa anterin ke rumah sakit hehehee 
***
12 April 2015, 18.50 WIB

Hmmm…. . sepertinya si koko sedang menyetir…. Hahahahaa Line mood on :)

Oh ya perjalananku kali ini menyenangkan karena naik pesawat Citilink dan duduk di Nomor 1A :)
Suka banget sama lagunya Citilink Ran -  Dekat Di Hati
miss u ko , long time no see haahahaahaah

No comments:

Post a Comment